KARAWANG,Jabartime.com – Rumah panggung bantuan Provinsi Jabar untuk warga Desa Karangligar, Kecamatan Telukjambe Barat masih terendam air akibat curah hujan yang tinggi tiga hari terakhir ini. Rumah panggung yang digagas Gubernur Jabar Dedi Mulyadi dinilai masih kurang tinggi dan kurang efektif karena tetap saja kebanjiran.
Pasalnya ketinggian muka air pada rumah tanggung yang belum rampung di bangun nyaris mencapai atap rumah.
Salah seorang warga Dusun Pangasinan, Desa Karangligar, Telukjambe Barat Asep Saefulloh mengatakan, terdapat sepuluh unit rumah panggung yang dibangun Pemprov Jabar di Dusun Kampek, Desa Karangligar. Sebagian ada yang sudah ditempati, tapi sebagian besar masih dibiarkan kosong karena belum rampung.
Menurut Asep, pihak Pemprov Jabar menjanjikan semua rumah panggung itu rampung pada akhir 2025.
“Keberadaan rumah panggung itu tidak menjadi solusi bagi warga Karanligar dalam menghadapi bencana banjir.,” ujar Asep dengan nada kesal, Selasa (20/1/2026).
Asep menyebutkan, sejak awal program pembangunan rumah panggung di Karangligar sudah menimbulkan polemik. Pasalnya dari target seribu unit rumah panggung yang dijanjikan KDM, ternyata hanya terealisasi 25 unit dengan ketinggian sekitar 2,5 meter.
Dia menambahkan, jumlah tersebut dinilai belum sebanding dengan jumlah rumah di Desa Karangligar yang kerap terdampak banjir yang mencapai 600 unit rumah lebih.
“Warga masih kesulitan mencari tempat yang aman dari terjangan air bah. Bahkan Balai Desa Karangligar yang sebelumnya selalu menjadi tempat pengungsian pada banjir kali ini ikut terendam,” tutur Asep Saefulloh.
Sementara Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karawang, Usep Supriatna, mengungkapkan, rumah panggung yang belum selesai saat ini masih terdampak banjir.
“Rumah panggung yang belum selesai juga yang sudah ditinggali masih terendam,”ujar Usep.
Kepala Desa Karangligar, Ersim, menjelaskan, hingga saat ini sebanyak 20 unit rumah panggung telah selesai dibangun. Sementara itu, empat unit lainnya masih dalam tahap pemasangan atap, dan satu calon penerima bantuan memilih mengundurkan diri.
“Sekarang sudah ada 20 rumah panggung yang selesai. Empat unit masih pemasangan atap, dan satu lagi mengundurkan diri,” katanya.
Lanjut dia, pembangunan rumah panggung tersebut awalnya ditargetkan rampung pada akhir 2025. Namun, target tersebut tidak tercapai karena berbagai kendala di lapangan.
“Semestinya selesai sampai akhir 2025, tapi memang kondisi di lapangan kurang mendukung, sehingga pekerjaannya molor,” ujarnya.
Menurut Ersim, Pemerintah Provinsi Jawa Barat sempat menyampaikan bahwa pembangunan rumah panggung ditargetkan kembali selesai pada akhir Januari 2026. Namun, banjir yang kembali melanda Desa Karangligar membuat pembangunannya belum bisa dilanjutkan.
“Dari Pemprov Jabar sempat menyampaikan targetnya akhir Januari 2026. Tapi dengan kondisi sekarang yang kembali terdampak banjir,” tuturnya.
Meski demikian, lanjut Ersim, ada sebagian warga sudah terpaksa menempati rumah panggung yang telah selesai dibangun, meskipun proses serah terima secara resmi belum dilakukan. Alasannya, mereka tidak memiliki tinggal lagi, selain di lokasi itu.
Ersim menilai pembangunan rumah panggung bukanlah solusi yang efektif untuk mengatasi persoalan banjir di Desa Karangligar. Menurutnya, penanganan banjir di wilayah tersebut membutuhkan solusi jangka panjang yang menyasar akar permasalahan, yakni dengan percepatan pembangunan Bendungan Cibeet.
“Selama bendungan tersebut belum terealisasi, bencana banjir akan terus berulang menerjang Karangligar meskipun rumah panggung dibangun di kawasan rawan,” katanya.
Dia berharap Pemerintah Pusat bersama pemerintah daerah segera merealisasikan pembangunan Bendungan Cibeet sebagai solusi utama penanganan banjir di Desa Karangligar. Dengan demikian persoalan banjir Karangligar dapat diselesaikan secara menyeluruh dan berkelanjutan.





