Stigma Negatif dan Minim Dukungan Jadi Pemicu ODGJ,

Bukan Cuma Genetik, Konflik Keluarga dan Lingkungan yang Penuh 'Judgment' Bisa Picu Gangguan Jiwa. Foto : Istimewa

KARAWANG, Jabartime.com – Dokter spesialis kejiwaan RSUD Karawang, dr. Gabriela Tantular, M.Biomed., Sp.Kj., menilai dukungan terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) masih minim. Kondisi tersebut diperparah dengan stigma negatif masyarakat yang membuat banyak pasien terlambat mendapatkan penanganan.

Menurut Gabriela, masih banyak orang menganggap gangguan mental sebagai hal tabu sehingga memilih menunda pemeriksaan ke psikiater. Akibatnya, kondisi psikologis yang dialami berkembang menjadi lebih berat.

Read More

“Kalau generasi zaman dulu kadang-kadang masih stigma untuk ke psikiater, jadi ditunda terus dan gangguan jiwanya biasanya lebih berat,” ujar Gabriela, Senin (25/5/2026).

Ia menjelaskan, ODGJ tidak hanya dialami kelompok usia lanjut, tetapi juga banyak ditemukan pada usia produktif. Namun, generasi muda dinilai mulai lebih sadar terhadap kesehatan mental sehingga cenderung lebih cepat mencari bantuan ketika mengalami gangguan psikologis.

“Kalau generasi sekarang lebih aware, jadi lebih cepat datang sehingga gangguan jiwanya tidak sampai berat,” katanya.

Gabriela mengatakan gangguan jiwa dipengaruhi banyak faktor atau multifaktorial. Selain faktor genetik, pola asuh keluarga dan lingkungan sosial juga memiliki peran besar terhadap kondisi mental seseorang.

Menurutnya, konflik keluarga yang tidak terselesaikan, kondisi broken home, hingga lingkungan yang penuh penghakiman atau judgment dapat menjadi pemicu munculnya gangguan jiwa.

“Konflik keluarga yang tidak selesai, broken home, sampai lingkungan yang banyak judgment bisa juga jadi pemicu gangguan jiwa,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa gangguan jiwa tidak selalu identik dengan kondisi berat seperti skizofrenia. Depresi, kecemasan, autisme, hingga ADHD juga termasuk dalam kategori gangguan jiwa.

“Skizofrenia itu bagian dari ODGJ yang berat. Tapi depresi, cemas, autis, ADHD itu juga termasuk ODGJ,” ungkapnya.

Selain faktor lingkungan, trauma berat seperti kekerasan fisik, kekerasan seksual, maupun kehilangan orang terdekat juga dapat memicu gangguan mental yang lebih serius.

Gabriela menekankan pentingnya dukungan keluarga dan lingkungan sekitar dalam proses pemulihan pasien. Menurutnya, dukungan sosial sangat memengaruhi kondisi pasien dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Ia mengimbau masyarakat mengurangi stigma terhadap ODGJ dan lebih mengedepankan empati serta dukungan.

“Enggak ada yang mau mengalami gangguan jiwa. Jadi daripada menghakimi, lebih baik bagaimana caranya kita support supaya dia menjadi lebih baik,” pungkasnya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *