Dua Dekade Krisis Air, Warga Kiarajaya Bertahan Hidup dari Sumur di Kuburan

Dua Dekade Krisis Air, Warga Kiarajaya Bertahan Hidup dari Sumur di Kuburan. (Foto: Jabartime.com/Yogi Kurnia)

KARAWANG, Jabartime.com – Selama lebih dari 20 tahun, warga Dusun Kiarajaya, Desa Margamulya, Kecamatan Telukjambe Barat, Kabupaten Karawang, sering alami krisis air bersih. Meski sudah puluhan kali mengadukan masalah ini ke berbagai pihak, hingga kini belum ada tindakan nyata dari pemerintah, baik dari tingkat kabupaten maupun provinsi.

Setiap hari, sekitar 500 warga dari 300 kepala keluarga harus berebut air di satu-satunya sumber yang tersisa yakni sebuah sumur tua yang terletak tepat di tengah-tengah area pemakaman umum. Air dari sumur itu tidak layak dikonsumsi, jadi hanya digunakan untuk mandi dan mencuci.

“Kami tiap hari seperti ini, berbondong-bondong antre air. Di sini ada sekitar 200 rumah, dan cuma satu sumur ini yang bisa kami akses,” ujar Siti Fadillah Ketua RT 12, Jumat (27/6/25).

Siti menjelaskan selama mengalami kekeringan, untuk kebutuhan konsumsi seperti memasak dan minum, warga membeli air galon isi ulang, yang biayanya sangat membebani.

“Buat galon saja bisa habis lebih dari Rp500 ribu per bulan. Itu untuk minum dan masak. Air dari sumur nggak mungkin kami konsumsi,” katanya.

Dan karena seringnya mengalamin kekeringan, saat musim hujan warga bahkan terpaksa menampung air hujan untuk keperluan harian. Namun hal itu justru memicu ancaman kesehatan.

“Kami pernah satu keluarga enam orang kena DBD. Gimana enggak, air hujan kami tampung berhari-hari, itu undang jentik nyamuk,” ujarnya prihatin.

Warga pun kembali menagih janji dari pejabat publik. Salah satunya adalah Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang pernah menjanjikan pengadaan air bersih untuk warga Kiarajaya.

“Pas bulan puasa saya sempat minta ke Kang Dedi, beliau janji satu bulan air akan mengalir. Tapi sampai sekarang belum ada apa-apa,” tutur Siti sambil menahan tangis.

Sayangnya, hingga saat ini belum ada tanda-tanda kehadiran pemerintah Kabupaten dan Provinsi.

“Dari bupati belum pernah datang. Dari provinsi juga nggak pernah ada yang ke sini. Kami benar-benar merasa diabaikan,” imbuhnya.

Kondisi ini membuat warga semakin frustrasi. Sumur yang berada di tengah pemakaman umum menjadi simbol ketimpangan, saat sebagian warga menikmati kemudahan infrastruktur, ratusan lainnya harus bertahan hidup dengan air yang tak layak dan penyakit yang mengintai.

“Kami mohon diperhatikan. Sudah lebih dari dua dekade kami hidup seperti ini,” tutup Siti sambil menangis.

Writer: Yogi Kurnia
Editor: Frizky Wibisono

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *