Kelas Unggulan SMK Teknologi Karawang Tawarkan Lulusan Siap Diserap Industri

Proses Pelaksanaan SPMB 2025 di SMK Teknologi Karawang. (Foto: Jabartime.com/Yogi Kurnia)

KARAWANG, Jabartime.com – Memilih sekolah setelah lulus SMP bukan sekadar soal tempat belajar, tapi juga tentang masa depan. SMK Teknologi Karawang tampaknya memahami hal ini dengan baik. Sekolah ini kembali membuka Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2025/2026 dengan penawaran yang sangat relevan bagi dunia kerja yakni lulusan siap diserap industri.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Endah Nurmala Sari, S.Pd., menjelaskan bahwa SMK Teknologi terus berbenah untuk menjadi jembatan antara dunia pendidikan dan dunia kerja. Salah satu inovasi yang dilakukan adalah membuka kelas unggulan dan kelas industri.

“Kami batasi hanya 25 siswa per kelas unggulan agar pembinaan lebih intensif, dan proses penyaluran kerja jadi lebih terarah. Targetnya, maksimal enam bulan setelah lulus, mereka sudah bekerja,” ungkapnya, Selasa (17/06/25).

Di SMK Teknologi, siswa tidak hanya belajar teori di kelas. Untuk jurusan Teknik Komputer Jaringan (TKJ), misalnya, pihak sekolah telah menjalin kemitraan dengan PT BNET. Perusahaan ini secara rutin mengirimkan instruktur langsung ke sekolah untuk mengajar dan membekali siswa dengan keterampilan berbasis kebutuhan lapangan kerja.

Jurusan lain seperti Teknik Sepeda Motor (TSM), Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis, serta Teknik Logistik, juga tidak kalah menjanjikan. Khusus logistik, SMK Teknologi menjadi salah satu dari dua sekolah di Karawang yang sudah membuka jurusan ini.

“Padahal kebutuhan logistik di perusahaan sangat besar, tapi belum banyak sekolah yang menyelenggarakan jurusannya. Di kelas 12, siswa logistik bahkan diarahkan mengambil sertifikat SIO jika bersedia,” jelas Endah.

Selain pendampingan dari industri, siswa di kelas unggulan juga mendapat materi tambahan seperti pelajaran Bahasa Jepang dari dasar hingga mahir, yang diajarkan setiap hari Sabtu.

Perbedaan mencolok lainnya adalah penggunaan fasilitas kelas reguler menggunakan kipas angin, sedangkan kelas unggulan sudah dilengkapi AC dan teknologi pendukung pembelajaran lainnya.

“Perbedaan ini bukan sekadar fasilitas, tapi juga pendekatan. Kelas unggulan punya seleksi akademik dan kesiapan finansial, karena ritmenya memang lebih padat dan targetnya tinggi,” tambahnya.

Sejak dibuka, kelas industri di SMK Teknologi telah menunjukkan hasil nyata. Tingkat penyerapan kerja lulusan mencapai sekitar 80 persen.

Sementara kelas unggulan, yang baru berjalan satu tahun, diproyeksikan bisa mencapai 100 persen karena pendekatan pembinaannya lebih personal.

“Sisanya biasanya karena kendala pribadi, seperti kurang fokus atau belum siap kerja. Tapi kami terus dampingi, bahkan setelah lulus,” ujarnya.

Saat ini SMK Teknologi sudah memasuki gelombang ketiga PPDB yang akan berlangsung hingga akhir Juni 2025. Sekolah masih membuka kesempatan luas bagi siswa baru, termasuk mereka yang belum lolos seleksi di sekolah negeri.

Dengan hanya Rp100.000 untuk formulir pendaftaran, calon siswa juga berpeluang mendapatkan voucher pendidikan hingga Rp2,5 juta, tergantung waktu pendaftaran. Selain jalur mandiri, tersedia juga jalur prestasi dan bantuan untuk keluarga tidak mampu.

“Banyak yang bilang biaya di sini mahal, padahal kami sangat fleksibel. Seringkali itu cuma persepsi dari keluarga yang sedang kesulitan ekonomi. Kami pahami itu, dan ada banyak skema keringanan yang kami tawarkan,”pungkasnya.

Writer: Yogi Kurnia
Editor: Frizky Wibisono

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *