KARAWANG, JABARTIME.COM – Ditengah teriknya matahari dan riuh kendaraan yang berseliweran di persimpangan bunderan Jalan Telukjambe Raya, Adiarsa Timur, Karawang. Seorang pria bediri dengan penuh siaga mengatur lalu lintas.
Dengan baju berlapis lembaran kertas karton di punggung yang bertuliskan “Ubur ubur ikan lele, Hati hati di jalan le,” Ia mengatur arus lalu lintas di Bundaran Telukjambe.
Dikenal sebagai Ketua RT setempat, Asep yang kini berumur 47, bukanlah seorang pegawai Dinas Perhubungan, bukan pula Polisi lalu lintas. Tapi tangan dan pluitnya jadi penentu kelancaran arus lalu lintas di Bundaran Telukjambe.
Mengingat, dilokasi tersebut merupakan jalur padat yang kerap dilalui oleh berbagai kendaraan mulai dari roda 2, roda 4 hingga mobil-mobil besar.
Lebih dari 5 tahun, Asep berdiri di jalan itu menjadi “Pak Ogah” atau juru parkir tak resmi. Setiap pagi, dia sudah bersiap di warung dekat persimpangan Bundaran dengan sebotol air mineral yang dibawanya dari rumah.
Tak ada gaji tetap, tak ada seragam, hanya niat dan kebiasaan yang membuatnya tetap setia membantu mengatur lalu lintas yang kerap macet disana.
“Kalau saya engga bantu pasti ini semrawut, nanti malah jadi macet panjang,” ujarnya, sambil tertawa kecil dengan pluit di tangan yang menjadi senjata utama. Jumat, (25/04/2025).
Meski penghasilannya tidak seberapa, ia tetap semangat membantu para pengendara dan memastikan tidak ada kemacetan.
“Yang penting bisa makan, bisa bantu orang juga. Lumayan kadang ada yang ngasih air minum, rokok. Ada juga yang ngasih nasi bungkus,” katanya.





