KARAWANG, jabartime.com – Dalam rangka memperingati Hari Tari Sedunia yang jatuh pada 29 April 2025, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) bekerja sama dengan Kabag Kesra Setda Kabupaten Karawang bersiap menggelar sebuah pertunjukan budaya besar yang akan melibatkan ribuan peserta.
Acara ini akan menjadi momentum peluncuran perdana lagu dan tarian khas Karawang bertajuk “Tutungkusan Karawang” yang diharapkan menjadi simbol baru identitas budaya Karawang.
Kepala Bidang Kebudayaan Disparbud Karawang, Waya Karmila selaku inisiator kegiatan ini menjelaskan bahwa para peserta kegiatan ini berasal dari kalangan pendidik dan mahasiswa. “Awalnya kami merencanakan pesertanya dari kalangan pelajar, namun setelah berdiskusi dengan Disdikpora, akhirnya ditetapkan peserta dari guru-guru TK, SD, SMP, SMA, hingga mahasiswa,” ujarnya, Selasa 15 April 2025.
Disparbud sendiri menargetkan keikutsertaan sekitar 5.000 peserta. “Target ini bukan angka mutlak, bisa lebih atau kurang, karena kita juga mempertimbangkan kapasitas dan kelancaran acara. Yang penting ada semangat menjaga keaslian seni budaya Karawang,” tambah Waya.
Para peserta akan mendaftar melalui tautan yang disediakan oleh lima organisasi mitra Disdikpora , Setiap organisasi akan mendata dan mengoordinasikan anggotanya yang ingin berpartisipasi.
“Kepanitiaan dan talent dipegang oleh kami di Disparbud, sedangkan untuk anggaran dikoordinasikan melalui Bagian Kesra Setda Karawang. Ini bentuk kerja sama yang harmonis antar instansi,” jelasnya.
Puncak acara akan berlangsung selama satu hari penuh, dari pagi hingga sore. Salah satu sorotan utama adalah pertunjukan tarian “Tutungkusan Karawang”, sebuah simpanan pusaka budaya Karawang yang akan diperkenalkan ke publik untuk pertama kalinya. Lagu Tutungkusan Karawang sendiri diciptakan oleh Apih Raida seorang seniman senior dan pencipta lagu berusia 85 tahun yang telah menciptakanratusan lagu sunda bertemakan kliningan Jaipong Karawangan, dan aransemen musiknya oleh maestro kendang Abah Namin bersama timnya.
“Tari dan lagu bertemakan kliningan jaipong Tutungkusan Karawang ini adalah murni karya asli Karawang. Kami ingin membungkam stigma negatif soal ‘Goyang Karawang’ yang selama ini disalahartikan. Goyang itu sebenarnya bermakna gerak, dan kini akan kita pungkas dengan memperkenalkan karya budaya yang sesungguhnya,” tutur Waya.
Dengan genre musik Opo Kijing yang menjadi ciri khas Karawang, lagu ini diharapkan menjadi identitas baru yang mengangkat citra budaya daerah ke tingkat provinsi bahkan nasional.
“Harapan kami, masyarakat Karawang semakin mengenal dan mencintai budayanya sendiri. Ketika ini terpublikasi secara luas, orang dari luar pun akan penasaran dan datang ke Karawang. Itulah dampak budaya yang ingin kami capai,” pungkasnya.





