Sering Konsumsi Junk Food saat Hamil, Ini Dampak Buruknya bagi Ibu dan Janin

Terlalu sering junk food bisa menyebabkan ibu hamil beresiko anemia hingga bayi lahir stunting. Foto : Istimewa

KARAWANG, Jabartime.com — Kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji (junk food) selama kehamilan dapat berdampak serius bagi kesehatan ibu dan janin. Selain meningkatkan risiko anemia, pola makan yang minim gizi juga berpotensi menyebabkan bayi lahir dengan berat badan rendah hingga mengalami stunting.

Bidan Koordinator Puskesmas Karawang, Evy Mei, mengingatkan ibu hamil agar tidak menjadikan junk food sebagai menu utama selama masa kehamilan. Menurutnya, makanan cepat saji umumnya tinggi kalori, gula, garam, dan lemak, tetapi miskin zat besi, vitamin, serta mineral yang dibutuhkan ibu dan janin.

Read More

“Ibu hamil yang gemar mengonsumsi junk food perlu waspada. Jika asupan gizinya tidak seimbang, risiko anemia akan meningkat dan dampaknya bisa dirasakan hingga bayi di dalam kandungan,” ujar Evy, Kamis (2/7/2026).

Evy mengatakan, saat ini masih banyak ibu hamil yang mengalami anemia akibat kurangnya asupan zat besi dari makanan sehari-hari. Kondisi tersebut dipengaruhi pola konsumsi masyarakat, terutama generasi muda yang lebih menyukai makanan instan dibandingkan sayur dan buah.

“Generasi sekarang kadang sudah tidak mengenal sayuran. Mereka lebih memilih ayam, daging, atau makanan instan. Padahal, anak yang sehat berawal dari ibu yang sehat. Apa yang dimakan ibu selama hamil akan menjadi sumber nutrisi bagi janin,” katanya.

Menurutnya, zat besi merupakan nutrisi penting untuk membentuk hemoglobin, protein dalam sel darah merah yang bertugas mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Kebutuhan zat besi dapat dipenuhi melalui konsumsi sayuran hijau seperti bayam dan daun singkong, hati ayam, serta buah bit.

Jika kadar hemoglobin rendah, pasokan oksigen ke tubuh ibu maupun janin ikut terganggu. Akibatnya, ibu hamil lebih mudah mengalami lemas, pucat, cepat lelah, hingga berisiko mengalami perdarahan saat persalinan.

“Kalau hemoglobinnya rendah, aliran oksigen ke seluruh tubuh juga tidak maksimal. Akibatnya, ibu menjadi lemas, bibir dan kuku tampak pucat, bahkan saat persalinan bisa tidak kuat mengejan. Dampaknya juga dirasakan bayi karena suplai nutrisi selama di dalam kandungan ikut terganggu,” jelasnya.

Evy menambahkan, anemia selama kehamilan juga dapat meningkatkan risiko bayi lahir dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), lahir prematur, hingga mengalami stunting karena kekurangan oksigen dan nutrisi sejak dalam kandungan.

Karena itu, ia mengimbau perempuan, khususnya remaja putri dan calon ibu, mulai menerapkan pola makan bergizi seimbang sejak dini dengan memperbanyak konsumsi sayur, buah, sumber protein, dan makanan kaya zat besi.

“Pencegahan anemia sebaiknya dimulai sejak remaja, bukan saat sudah hamil. Semakin baik status gizi seorang perempuan sebelum hamil, semakin besar peluang melahirkan bayi yang sehat dan terhindar dari stunting,” pungkasnya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *