KARAWANG, Jabartime.com – Puskesmas Wanakerta mengintensifkan upaya pencegahan stunting dengan menerapkan pendampingan door to door bagi keluarga yang memiliki bayi dan balita berisiko stunting. Melalui metode jemput bola ini, tenaga kesehatan mendatangi langsung rumah warga untuk memberikan edukasi, memantau tumbuh kembang anak, hingga mendampingi keluarga secara berkelanjutan.
Kepala Puskesmas Wanakerta, Veronica Maulana, mengatakan pendekatan tersebut dipilih karena dinilai lebih efektif dibandingkan hanya mengandalkan penyuluhan di posyandu.
“Kami ingin pencegahan stunting benar-benar menyentuh keluarga. Karena itu, petugas datang langsung ke rumah warga agar bisa melihat kondisi anak, memahami permasalahan yang dihadapi keluarga, sekaligus memberikan pendampingan secara intensif,” ujar Veronica, Jumat (3/7/2026).
Ia menjelaskan, Puskesmas Wanakerta membentuk 10 tim pendamping yang disebar di 10 desa wilayah kerja. Setiap tim terdiri atas dokter, bidan desa, dan petugas lintas program yang secara rutin melakukan kunjungan ke rumah keluarga sasaran.
Dalam setiap kunjungan, petugas melakukan penimbangan berat badan balita, memantau pertumbuhan anak, memberikan edukasi mengenai pemenuhan gizi dan pola asuh, serta berdiskusi langsung dengan orang tua terkait kendala yang dihadapi dalam merawat anak.
“Pendampingan ini bukan sekadar datang lalu pulang. Kami memantau perkembangan anak secara berkala agar setiap permasalahan bisa segera ditangani,” katanya.
Menurut Veronica, program door to door menjadi pelengkap berbagai intervensi yang telah berjalan, seperti pemberian makanan tambahan (PMT), bantuan telur, dan pelayanan posyandu. Pendekatan langsung dinilai mampu membangun komunikasi yang lebih baik antara tenaga kesehatan dan keluarga.
Ia juga memaparkan, data Puskesmas Wanakerta, saat ini terdapat 292 bayi dan balita yang masuk kategori berisiko stunting. Risiko tersebut dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari rendahnya kepemilikan jamban sehat, keterbatasan akses air bersih, kebiasaan merokok di lingkungan keluarga, hingga pola pengasuhan yang belum optimal.
Meski begitu, pelaksanaan program masih menghadapi sejumlah tantangan, di antaranya keterbatasan tenaga kesehatan, minimnya kader posyandu yang terlatih, serta kurangnya alat ukur dan alat timbang di beberapa posyandu.
“Harapan kami, keluarga lebih terbuka menerima edukasi karena petugas hadir langsung di rumah mereka. Pencegahan stunting tidak cukup hanya dengan pemberian makanan tambahan, tetapi harus dibarengi pola asuh yang baik dan keterlibatan seluruh anggota keluarga,” ungkap Veronica.
Ia menambahkan, keberhasilan menekan angka stunting tidak hanya bergantung pada tenaga kesehatan, tetapi juga membutuhkan peran aktif orang tua, pemerintah desa, kader posyandu, dan masyarakat.
“Dengan kolaborasi tersebut, kami berharap jumlah balita berisiko stunting dapat terus menurun dan lahir generasi yang sehat, cerdas, serta berkualitas,” tukasnya.





