PKBM di Karawang Terapkan Kelas Karyawan, Warga Putus Sekolah Tetap Bisa Raih Ijazah

Disdikbud Karawang terapkan kelas karyawan di PKBM, pastikan pendidikan merata. Foto : Sarah Claudia Gustap

KARAWANG, Jabartime.com – Kesibukan bekerja kini bukan lagi alasan untuk menunda pendidikan. Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di Kabupaten Karawang menerapkan sistem pembelajaran yang fleksibel sehingga masyarakat yang sudah bekerja tetap bisa menuntaskan pendidikan kesetaraan hingga memperoleh ijazah Paket A, B, maupun C.

Penilik Pendidikan Masyarakat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Karawang, Nata Priatna, mengatakan PKBM menyediakan beberapa metode pembelajaran yang disesuaikan dengan kondisi warga belajar, mulai dari kelas reguler, kelas karyawan, hingga pembelajaran daring dan sistem penugasan.

Read More

“Mode pembelajaran di PKBM ada tiga, yaitu tatap muka atau reguler, kelas karyawan, dan pembelajaran daring. Selain itu, ada juga sistem penugasan atau modul bagi warga belajar yang kesulitan hadir secara langsung,” kata Nata, Selasa (7/7/2026).

Dia menjelaskan, sejak awal proses pembelajaran setiap peserta didik akan menentukan pola belajar melalui kontrak belajar. Skema tersebut memungkinkan warga belajar memilih metode yang paling sesuai dengan aktivitas sehari-hari, terutama bagi mereka yang telah bekerja.

“Bagi yang sudah bekerja tentu tidak mungkin setiap hari datang ke PKBM setelah pulang kerja. Karena itu kami memberikan pilihan belajar secara daring atau melalui modul dan penugasan agar mereka tetap bisa menyelesaikan pendidikan,” ujarnya.

Menurut Nata, PKBM juga membuka kelas karyawan apabila dalam satu perusahaan terdapat sejumlah pekerja yang ingin melanjutkan pendidikan kesetaraan. Jadwal pembelajaran akan disusun secara khusus agar tidak mengganggu jam kerja para peserta.

Selain memberikan fleksibilitas waktu belajar, PKBM melayani pendidikan kesetaraan mulai dari Paket A setara SD, Paket B setara SMP, hingga Paket C setara SMA. Program tersebut menjadi alternatif bagi masyarakat yang belum sempat menyelesaikan pendidikan formal karena berbagai alasan, termasuk harus bekerja sejak usia sekolah.

Nata berharap sistem pembelajaran yang lebih adaptif mampu meningkatkan minat masyarakat untuk kembali menempuh pendidikan tanpa harus meninggalkan pekerjaan.

“Dengan sistem yang lebih fleksibel, kami berharap masyarakat tidak lagi ragu untuk melanjutkan pendidikan. Siapa pun tetap memiliki kesempatan memperoleh ijazah meskipun sudah bekerja,” tuturnya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *