Komisi III DPRD Karawang Pertanyakan Kematian Massal Ikan di Irigasi Johar, DLH Lakukan Uji Laboratorium

KARAWANG, Jabartime.com – Komisi III DPRD Kabupaten Karawang mendatangi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Karawang untuk meminta penjelasan terkait kasus kematian massal ikan di aliran irigasi kawasan Leuweung Seureuh–Johar.

Wakil Ketua Komisi III DPRD Karawang, Erick Heryawan Kusumah, mengatakan peristiwa tersebut tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga berpotensi berdampak terhadap masyarakat sekitar.

“Bagi kami ini bukan sekadar persoalan ekologi. Dampak yang ditimbulkannya bisa sangat merugikan masyarakat, sehingga perlu ada penanganan dan investigasi yang serius,” ujar Erick usai pertemuan dengan DLH Karawang, Rabu (3/6/2026).

Dalam pertemuan itu, DLH bersama Satgas Citarum Harum telah melakukan verifikasi lapangan serta pengambilan sampel air di sejumlah titik lokasi kejadian.

Erick menjelaskan, sampel tersebut saat ini masih dalam proses pengujian laboratorium untuk mengetahui penyebab pasti kematian ribuan ikan.

“DLH sudah melakukan penyisiran lokasi dan pengambilan sampel air. Saat ini sampel sedang diuji di laboratorium. Prosesnya membutuhkan waktu sekitar 14 hari,” katanya.

Ia menegaskan, hasil uji laboratorium akan menjadi dasar untuk mengetahui faktor penyebab kematian ikan serta sumber pencemar jika ditemukan adanya indikasi tersebut.

“Kita ingin memperoleh data yang valid. Setelah hasil keluar, baru bisa diketahui apa penyebabnya dan dari mana sumbernya,” ujarnya.

Sambil menunggu hasil pemeriksaan, Erick mengimbau masyarakat agar tidak mengonsumsi ikan yang ditemukan mati di lokasi kejadian.

“Sebaiknya jangan dikonsumsi dulu. Kita tidak tahu kandungan apa yang menyebabkan ikan-ikan itu mati, jadi lebih aman dihindari,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Tata Lingkungan dan Penataan Peraturan DLH Karawang, Lucky Mantera Dwi Putra, mengatakan pihaknya masih melakukan kajian dan belum dapat menyimpulkan penyebab kematian ikan.

“Kami belum bisa memastikan sumber penyebab kematian ikan itu akibat apa. Banyak indikator yang bisa menyebabkan ikan mati, salah satunya kadar oksigen terlarut yang rendah,” jelas Lucky.

Ia menambahkan, seluruh kemungkinan masih terus ditelusuri, termasuk dugaan adanya bahan pencemar di saluran irigasi.

“Hasil laboratorium ini akan menjadi dasar awal untuk mengetahui apakah ada indikasi pencemaran dan dari mana sumbernya. Kami minta semua pihak menunggu hasilnya,” ujarnya.

Lucky memperkirakan hasil uji laboratorium akan keluar dalam waktu sekitar 14 hari kerja, dan setelah itu DLH akan menyampaikan hasil investigasi kepada publik.

“Setelah hasil keluar, kami akan sampaikan secara terbuka kepada masyarakat agar semuanya jelas dan tidak menimbulkan spekulasi,” pungkasnya.

Writer: Iqbal
Editor: Frizky

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *