Atasi Banjir Karangligar, Lima Pompa dengan Kapasitas 30 Meter Kubik Disiapkan

Penanganan banjir Karangligar dikebut. Pembangunan rumah pompa capai 80 persen untuk mengatasi banjir yang mengancam 300 hektare sawah. Foto : Iqbal Maulana Bahtiar

KARAWANG, Jabartime.com – Banjir yang selama bertahun-tahun melanda wilayah Karangligar, Kecamatan Telukjambe Barat, Kabupaten Karawang, berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi besar bagi masyarakat, terutama petani.

Wakil Ketua DPR RI Saan Mustopa menyebut sedikitnya 300 hektare lahan persawahan terdampak banjir. Dengan rata-rata produksi mencapai 7 ton gabah per hektare, sekitar 2.100 ton gabah berpotensi terdampak setiap kali banjir terjadi.

Read More

Hal tersebut disampaikan Saan saat meninjau penanganan banjir di Desa Karangligar, Jumat (18/9/2026).

“Total sekitar 300-an hektare, 300 hektare sawah yang terdampak. Kalau rata-rata 7 ton saja per hektarenya, kalikan 300 hektare,” ujar Saan.

Menurut Saan, potensi kerugian akan semakin besar apabila menghitung nilai beras yang gagal diproduksi akibat tanaman padi terendam banjir. Kondisi tersebut juga berdampak terhadap kehidupan dan psikologis masyarakat.

“Ini bukan lebih kepada soal komitmen, keberpihakan, kemauan kita untuk membebaskan masyarakat kita dari segala beban yang dialami,” katanya.

Saan mengatakan persoalan banjir di Karangligar telah berlangsung selama puluhan tahun. Berdasarkan informasi yang diterimanya, masyarakat setempat telah menghadapi banjir selama sekitar 25 tahun.

“Jadi ini sudah hampir satu tahun kita menangani. Tapi banjirnya ini sudah hampir 20 tahun, 25 tahun kata Pak Arnold,” ujarnya.

Ia menilai karakter banjir di Karangligar berbeda dengan sejumlah wilayah lain di Karawang. Jika di wilayah utara genangan biasanya cepat surut, banjir di Karangligar dapat bertahan hingga berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.

“Kalau di sini, ini menggenang. Sebulan, dua bulan enggak pernah selesai di sini. Dan setahun bisa empat kali,” kata Saan.

Pembangunan Rumah Pompa Capai 80 Persen

Saan menyebut penanganan banjir Karangligar saat ini mulai menunjukkan perkembangan. Pembangunan pintu air dan rumah pompa disebut telah mencapai sekitar 80 persen.

“Alhamdulillah hari ini sudah saya lihat progresnya sudah hampir 80 persen. 79 persen sekian, sudah 80 persen,” katanya.

Ia berharap seluruh pekerjaan dapat segera diselesaikan sebelum musim hujan tiba sehingga genangan di Karangligar dapat dikurangi.

“Musim hujan yang akan datang mudah-mudahan sudah tidak ada banjir lagi di Karangligar ini,” ujarnya.

Sementara itu, Mayjen TNI (Purn) Arnold Aristoteles Paplapna Ritiauw menjelaskan banjir di Karangligar dipengaruhi sejumlah faktor, di antaranya fenomena backwater atau aliran air yang kembali masuk melalui saluran pembuangan.

Selain itu, kawasan tersebut mengalami penurunan muka tanah sekitar 1,1 sentimeter setiap tahun.

“Setiap tahun terjadi penurunan muka tanah 1,1 sentimeter. Bisa dibayangkan dalam waktu 20 sampai 25 tahun tentunya sudah sangat jauh,” kata Arnold.

Untuk mempercepat pengurangan genangan, pemerintah menyiapkan lima unit pompa yang ditempatkan di dua lokasi. Pompa tersebut akan mengalirkan air menuju saluran Cibeet dan selanjutnya diteruskan ke Sungai Citarum.

Masing-masing pompa memiliki kapasitas sekitar 6 meter kubik per detik sehingga lima pompa diperkirakan memiliki total kapasitas sekitar 30 meter kubik per detik.

Arnold mengatakan mesin pompa telah tersedia dan tinggal menunggu penyelesaian bangunan rumah pompa.

“Mesinnya sudah ada, tinggal dirakit di sini. Tinggal tunggu gedung atau bangunan pompanya siap, kita pasang dan sudah siap dioperasionalkan nanti pada saat terjadi banjir,” ujarnya.

Ia berharap pompa tersebut sudah dapat digunakan saat musim hujan sekitar Oktober-November 2026, meskipun pekerjaan secara keseluruhan belum sepenuhnya selesai.

Tanggul Sepanjang 4,3 Kilometer

Selain pembangunan rumah pompa, pemerintah juga menyiapkan pembangunan tanggul sepanjang sekitar 4,3 kilometer dari wilayah Sungai Cibeet.

Arnold mengatakan pembangunan tanggul membutuhkan anggaran sekitar Rp250 miliar dan ditargetkan dikerjakan pada 2027. Namun, pemerintah daerah terlebih dahulu harus menyelesaikan proses pembebasan lahan.

“Harapannya pembebasan lahan untuk tanggul ini bisa selesai sekitar Oktober-November 2026, sehingga pembangunan fisiknya bisa dilakukan sesuai rencana,” katanya.

Arnold juga mendorong pemerintah menghitung secara khusus kerugian ekonomi akibat banjir yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

“Memang kita belum pernah menghitung kerugian ekonominya akibat banjir ini. Tapi mungkin saran saya perlu dihitung juga,” ujarnya.

Menurutnya, perhitungan tersebut penting, terutama untuk melihat dampak banjir terhadap sektor pertanian. Tanaman padi yang terendam menjelang panen berisiko mengalami kerusakan dan tidak dapat dimanfaatkan.

“Yang lebih kita khawatirkan ketika mau panen. Kalau mau panen tiba-tiba banjir, karena pompa terendam satu minggu saja, sudah langsung busuk padinya. Sudah enggak bisa dimanfaatkan,” katanya.

Pembebasan Lahan Rumah Pompa Selesai

Bupati Karawang Aep Syaepuloh mengatakan pemerintah daerah telah menyelesaikan pembebasan lahan untuk dua lokasi pembangunan rumah pompa, yakni Cidawolong dan Kedungmurang.

“Alhamdulillah kalau yang untuk dua ini, Cidawolong dengan Kedungmurang, kurang lebih hampir satu hektare ini sudah selesai,” ujar Aep.

Untuk pembangunan tanggul, Aep mengatakan proses penetapan lokasi bersama pihak terkait juga telah dilakukan.

Pemerintah berharap pembangunan rumah pompa dan rencana pembangunan tanggul dapat mempercepat penanganan banjir yang selama ini menjadi persoalan masyarakat Karangligar.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *