Dosen Unsika Paparkan Strategi Pemulihan Budidaya Padi Pascabanjir di Karawang

Dosen Fakultas Pertanian Unsika, Rommy Andhika Laksono
Dosen Fakultas Pertanian Unsika, Rommy Andhika Laksono

KARAWANG, Jabartime.com – Dosen Fakultas Pertanian Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika), Rommy Andhika Laksono, menegaskan bahwa banjir menjadi ancaman serius bagi sektor pertanian, khususnya budidaya padi di daerah sentra produksi seperti Kabupaten Karawang.

“Banjir tidak hanya merusak tanaman padi yang sedang tumbuh, tetapi juga menurunkan kualitas tanah, mengganggu sistem irigasi, serta meningkatkan risiko serangan hama dan penyakit,” ujar Rommy. Kamis,(15/1/2026).

Ia menjelaskan, kerusakan tanaman padi akibat banjir dapat terjadi secara morfologis dan fisiologis. Akar tanaman yang terendam dalam waktu lama berpotensi membusuk, batang menjadi lemah, dan daun menguning akibat kekurangan oksigen.

“Jika kondisi ini tidak segera ditangani, risiko gagal panen dalam skala luas sangat besar,” katanya.

Rommy menambahkan, dari sisi kesuburan tanah, banjir menyebabkan hilangnya unsur hara penting seperti nitrogen, fosfor, dan kalium. Selain itu, tanah pascabanjir cenderung menjadi lebih masam akibat pencucian unsur basa.

“Pemulihan tanah harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pemberian pupuk organik, biofertilizer, hingga kapur pertanian untuk menyeimbangkan pH tanah,” jelasnya.

Menurutnya, banjir juga memicu meningkatnya populasi hama dan penyakit tanaman. Keong mas, tikus, serta penyakit blas dan hawar daun mudah berkembang pada kondisi lembap.

“Pengendalian hama terpadu perlu diterapkan agar serangan tidak semakin memperparah kerugian petani,” ujarnya.

Dalam penanganan pascabanjir, Rommy menekankan pentingnya pemilihan varietas padi yang adaptif. Varietas genjah dinilai mampu membantu petani mengejar musim tanam berikutnya, sementara varietas toleran genangan cocok diterapkan di wilayah rawan banjir.

“Pemilihan varietas yang tepat sangat menentukan keberhasilan pemulihan produksi padi pascabanjir,” tegasnya.

Ia mencontohkan banjir yang melanda Karawang pada Desember 2025, di mana ratusan rumah dan lahan sawah terendam dengan ketinggian air mencapai 20 sentimeter hingga 1 meter. Lebih dari 1.224 jiwa terdampak dan ratusan hektare sawah mengalami kerusakan.

“Langkah cepat pemerintah daerah bersama petani, seperti perbaikan irigasi dan penanaman ulang varietas genjah, menunjukkan pentingnya kolaborasi dalam menghadapi bencana,” kata Rommy.

Selain penanganan teknis, ia menilai penguatan kelembagaan juga menjadi kunci pemulihan pertanian pascabanjir.

“Penyuluhan pertanian harus diperkuat agar petani mendapatkan pendampingan yang tepat, didukung akses permodalan dan teknologi adaptif,” tuturnya.

Ke depan, Rommy berharap penanganan budidaya padi tidak lagi bersifat reaktif, melainkan berorientasi pada pembangunan sistem pertanian yang tangguh terhadap bencana.

“Dengan sistem pertanian yang adaptif dan kebijakan yang berpihak pada petani, ketahanan pangan nasional dapat terus terjaga di tengah tantangan perubahan iklim,” pungkasnya.

Writer: Nurul Rahma Amalia
Editor: Iqbal Maulana

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *