KARAWANG, Jabartime.com – Pusat Informasi dan Konseling Remaja, atau yang lebih dikenal dengan PIK-R, merupakan bagian dari program besar Bangga Kencana yang digagas oleh BKKBN, dan saat ini diimplementasikan secara aktif oleh Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Karawang.
Menurut Lia Ariesta Sumartono, Pengampu Forum Genre Karawang Bidang KB, PIK-R adalah sebuah wadah atau organisasi remaja yang dibentuk untuk menjadi tempat berbagi, edukasi, dan konseling bagi remaja, khususnya yang berusia 10 hingga 24 tahun dan belum menikah.
Tujuan utama dari PIK-R adalah memberikan informasi dan konseling sebaya tentang pentingnya perencanaan kehidupan berkeluarga sejak dini, serta pencegahan terhadap tiga ancaman utama remaja, yaitu seks bebas, pernikahan dini, dan penyalahgunaan narkoba (NAPZA).
“PIK-R ini adalah representasi dari program Genre, yang dijalankan dalam lingkup terkecil, bisa di sekolah maupun di masyarakat. Ada segmentasi usianya juga, mulai dari Berani (10–14 tahun), Beraksi (15–19 tahun), dan Berkolaborasi (20–24 tahun),” ujar lia, Kamis, (05/06/25).
Di Kabupaten Karawang sendiri, hingga saat ini PIK-R telah terbentuk di seluruh 30 kecamatan, termasuk di banyak sekolah menengah. Beberapa PIK-R bahkan telah berprestasi di tingkat provinsi hingga nasional, seperti PIK-R dari SMP IT Mentari Ilmu, SMA Negeri 5, hingga PIK-R BINARS.
Di tempat yang sama, Robby Komarudin, sebagai Pembina Forum Genre Karawang Bidang PPADI, mengatakan tantangan terbesar saat ini adalah sumber daya manusia (SDM). Tidak semua pengelola PIK-R benar-benar memahami substansi program Genre.
Oleh karena itu, pelatihan dan pembinaan secara rutin terus dilakukan, mulai dari pelatihan konselor sebaya, pendidik sebaya, hingga pelatihan PSKS (Pelayanan Sosial Kesehatan Sekolah).
“Meskipun data spesifik mengenai penurunan angka pernikahan dini atau kasus NAPZA sebaiknya dikonfirmasi ke BPS, namun secara kasat mata dan dari evaluasi lapangan, keberadaan PIK-R sangat membantu. Salah satunya karena PIK-R berhasil menjadi media komunikasi efektif antar sesama remaja,” jelas Robby.
Robby juga menambahkan bahwa pada dasarnya remaja lebih nyaman curhat dan berdiskusi dengan teman sebayanya. Oleh sebab itulah, pendekatan sebaya menjadi efektif. PIK-R juga tidak hanya fokus pada kesehatan reproduksi, tapi juga mulai menyentuh aspek penting lainnya seperti life skill, kesiapan kerja, dan persiapan kuliah.
Dengan jumlah total sekitar 112 kelompok PIK-R aktif, para narasumber sepakat bahwa dukungan lintas sektor menjadi kunci keberhasilan ke depan. DPPKB berharap PIK-R bisa terus berinovasi, menjangkau lebih banyak remaja, terutama yang berada di desa-desa, dan memberikan nilai tambah yang nyata dalam membangun generasi muda yang siap berkeluarga secara sehat dan terencana.
“Kami berharap PIK-R dapat semakin bersinergi dengan program-program pembangunan berwawasan kependudukan, tidak hanya soal kesehatan reproduksi tapi juga pembentukan karakter, keterampilan hidup, dan kesiapan masa depan para remaja kita,” pungkas kedua narasumber.





