Kisah Perjuangan Prof. Ade Maman, Dari Anak Desa Jadi Rektor Unsika

Rektor Unsika, Prof. Ade Maman Suherman. (Foto: Istimewa)

KARAWANG, Jabartime.com – Setiap pagi di Desa Jagara, Kuningan, Jawa Barat, bocah kecil bernama Ade Maman Suherman menyusuri pematang sawah dengan sepatunya yang basah. Buku-buku sekolahnya ia bungkus tas plastik agar tak basah terkena kabut pagi.

Ia berangkat lebih awal dari teman-temannya. Bukan karena kewajiban, tapi karena semangat yang menggebu-gebu.

Kini, lebih dari 50 tahun kemudian, Ade duduk di kursi Rektor Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika). Dari pematang sawah, ia sampai di ruang rektorat Unsika.

Tumbuh dari keluarga sederhana

Lahir pada Juli 1967 sebagai anak keempat dari sebelas bersaudara, Ade tumbuh dalam keluarga pendidik. Ayahnya seorang guru SD, sementara ibunya adalah ibu rumah tangga yang selalu menekankan pentingnya ilmu.

“Ibu selalu bilang, harta kita itu ilmu. Kalau kamu pintar, ilmu akan bantu kamu ke mana saja,” kenangnya.

Selain disiplin keluarga, masa kecil Ade juga diisi canda. Salah satu kenangan yang masih hangat baginya adalah berenang dan memancing di Waduk Darma.

“Kalau belum diomelin orang rumah, berarti belum pulang,” ujarnya sambil tertawa.

Setelah lulus SMA, Ade diterima di Fakultas Hukum Unsoed, Purwokerto, pada 1990. Aktif berorganisasi, ia dikenal sebagai mahasiswa yang kritis dan berdedikasi.

Tiga tahun berselang, ia diangkat sebagai dosen di kampus yang sama. Lalu, Ade melanjutkan studi S2 di University of Groningen, Belanda, jurusan International Business.

Sepulang dari Belanda, ia dipercaya sebagai Dekan Fakultas Hukum Unsoed. Pada 2008, ia kembali menimba ilmu untuk S3 di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI).

Di tengah kesibukan akademik, Ade tak lupa menjaga keseimbangan hidup. Ia menekuni hobi tenis sejak masih dosen muda. Kini, ia tergabung dalam pengurus Asosiasi Tenis Profesor Indonesia (ATP).

Puncak karier di Unsika

Tahun 2023 menjadi tonggak baru. Pada 24 Mei, Ade terpilih sebagai Rektor Unsika setelah meraih 25 suara. Ia mengungguli dua kandidat lainnya.

Sebagai Rektor, ia membawa visi besar untuk memajukan Unsika sebagai perguruan tinggi unggulan di tengah kawasan industri terbesar se-Asia Tenggara.

Memiliki 9 Fakultas dan 32 program studi, tekad Ade hanya satu untuk Unsika, tampil lebih bersinar.

“Unsika harus berani tampil. Lewat pendidikan, riset, pengabdian, dan kerja sama dengan industri serta lembaga riset, kita bisa melompat lebih jauh,” tegasnya.

Kisah Prof. Ade adalah bukti bahwa keterbatasan bukan halangan. Dari anak desa yang membawa buku dalam tas plastik, kini ia memimpin ribuan mahasiswa dan dosen.

Semangatnya tetap sama diamembawa perubahan melalui pendidikan.

Writer: Gelar Maulana Media
Editor: Frizky Wibisono

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *