Kolam Mata Air Cijanun di Purwakarta Ini Mulai Ramai Dikunjungi Wisatawan

0
234

PURWAKARTA, Jabartime.com – Jauh dari pusat-pusat keramaian Purwakarta kota, di dataran tinggi kawasan Gunung Burangrang, Kampung Cijanun dan Lembang Sari Desa Cipeundeuy Kecamatan Bojong mulai “diserang” warga dari berbagai kota. Kota Bandung dan Kabupaten Bandung Barat, Karawang hingga Kabupaten Subang.

Sebabnya, sejak setahun terakhir warga di dua kampung bersama aparat desa setempat mengembangkan mata air menjadi tempat wisata kolam renang alami.

Kolam mata air berukuran kira-kira 10×6 meter itu, semula memang dibangun PDAM Purwakarta untuk distribusi air ke wilayah perkotaan.

Namun, faktor kesadaran warga setempat terhadap wisata yang mulai menguat, membuat mereka mengembangkan kolam tampung itu hingga lebih menarik sehingga mengundang warga untuk datang kesana.

Aliran air yang menurut mereka tak pernah surut saat musim kemarau sekalipun, jadi promosi yang mereka gembar-gemborkan. Ditambah lagi, kejernihan air khas pegunungan yang belum terkontaminasi.

Debit air yang deras mereka alirkan melalui pipa yang sedikit disumbat dengan plastik ukuran persegi, sehingga aliran air membuncah membentuk lingkaran air mancur yang deras.

Warung-warung kopi, gorengan, makanan khas Sunda seperti lotek dan karedok mereka jual di pinggiran kolam. Mereka juga menawarkan nasi liwet untuk para pengunjung.

“Awalnya ini mulai rame sejak awal tahun. Ramenya setelah warga sini posting foto kolam renang ke media sosial,” ujar Muhammad Mostafa (25), pemuda di kampung itu.

Setelah itu, satu persatu warga dari luar kampung menyambangi kolam mata air itu. Perlahan tapi pasti, pengunjung membludak terutama saat akhir pekan.

“Karena makin banyak, kami berinisiatif membuat manajemen tiket dengan harga seikhlasnya, parkir motor dan kami membuat warung-warung kecil. Prosesnya mulai membaik, sebagian dari kami punya penghasilan kecil-kecilan,” ujar Mustofa.

Akses infrastruktur jalan menuju kampung itu terbilang mulus dengan cor beton meskipun di pelosok Purwakarta dan ada sebagian ruas jalan kampung yang belum di beton.

“Biaya parkir dan tiket dengan biaya seikhlasnya kami simpan untuk keperluan perawatan,” ujar Mustofa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here