Hampir punah, Abah Djudju Lestarikan Suling Bambu

0
346

PURWAKARTA, Jabartime.com – Suara serpihan bambu yang diserut, terdengar samar-samar. Meski demikian wangi bambu tersebar ke seluruh ruangan-ruangan yang sedikit tersekat. Suara melengking terdengar sesekali. ā€ˇSuara tersebut adalah suara seruling bambu yang dibuat dadakan. Walaupun dadakan nyatanya suara seruling ini kelas wahid, melengking namun bersih terdengar.

Seruling bambu ini adalah buatan Rahmat Djunaedi yang akrab disapa Abah Djudju (69). Seruling ini pun kini amat mudah untuk didapat. Setiap harinya Abah Djudju mempunyai lapak khusus di pojokan Galeri Wayang, Pemkab Purwakarta. Di lapak itulah dia bekerja sebagai pembuat seruling.

Setiap harinya beberapa seruling jadi dibuatnya, kadang dijual atau kadang hanya sebagai pelengkap penuhnya lapak Abah Djudju. Dalam sehari setidaknya minimal 3 buah seruling dibuat warga Darangdan, Kabupaten Purwakarta ini.

“Saya khawatir lama kelamaan, seruling bambu akan punah. Padahal ini warisan budaya yang harus dilestarikan. Anak-anak muda pun kini tak pernah ada yang mau belajar memainkannya,” ucap Abah Djudju.

Menurut Abah Djudju, yang dikhawatirkannya lagi adalah jarangnya seniman atau perajin seruling di Jawa Barat. “Siapa lagi nanti yang menjadi penerus untuk membuat seruling bambu. Cepat atau lembat kalau tidak dilestarikan, alat musik ini bisa hilang,” katanya.

Salah satu hal yang mampu membuat pelestarian alat musik tradisional dapat berjalan dengan baik kata Djudju, adalah dengan masuknya sebuah mata pelajaran khusus di sekolah. Bahkan seharusnya dari tingkat sekolah dasar hingga atas.

“Mata pelajaran khusus terebut nantinya mewajibkan seluruh murid untuk belajar bagaimana membuat dan memainkan alat musik seruling bambu,” ucapnya.

Kekhawatiran ini pun dibarengi dengan rasa cemas Abah Djudju yang semakin hari semakin menginjak usia senja, “Suatu saat harus ada yang melestarikan alat musik suling bambu. Nah, siapa lagi yang bakal melanjutkan kalau bukan anak-anak sekarang yang masih bersekolah. Abah yakin kalau mereka dijarin cara membuat dan memainkan suling bambu, insya Allah suling bambu bisa terus ada,” ujarnya.

Di sisi lain, Abah Djudju juga melihat faktor kelangkaan bahan baku utama pembuatan suling bambu yaitu awi tamiang menjadi masalah tersendiri. Khususnya dalam rangka melestarikan alat musik tradisional tersebut.

Lelaki tua ini berpendapat kelangkaan tersebut diakibatkan banyaknya lahan yang ditumbuhi awi tamiang diubah. Rata-rata lahan ini kata Abah Djudju diubah menjadi lahan penanaman singkong maupun pohon pisang.

“Nyari bambu tamiang untuk membuat suling aja sekarang sudah mulai susah. Harusnya pemerintah juga memikirkan hal ini, agar kelestarian alat musik suling bambu tetap terjaga,” ucapnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here